Proses KPR itu Ternyata Rumit dan Berbelit

By: opik0740 comments

Proses KPR • Survey yang dilakukan oleh situs Rumah.com menyatakan bahwa masyarakat menganggap proses KPR sangat Rumit dan Berbelit. Iulah mengapa akhirnya masyarakat memilih untuk mengajukan KPR Online.

Survei Tentang KPR : Ternyata Proses KPR itu Rumit dan Berbelit

Namaku Martin Rambe, aku berasal dari pulau Sumatera, tepatnya dari Sumatera Utara. Ya, benar aku orang batak. Sudah menjadi tradisi kami untuk merantau, mencari kehidupan yang lebih layak di Ibu kota. Akhirnya, sejak tahun 2015 saya bekerja di Jakarta. Walaupun masih berstatus single, saya ingin punya rumah sendiri. Waktu itu, kebetulan saya tbertarik dengan promo KPR rumah yang cukup menggiurkan.

Saat itu, di tahun 2016, teman saya memberikan informasi tentang rumah minimalis di Bekasi Utara, Bekasi. Kebetulan, saya juga punya saudara yang tinggal disana. Kawasan ini juga baik menurut saya, karena bebas banjir juga. Setelah saya melihat langsung lokasinya, maka saya memutuskan untuk membeli rumah di lokasi tersebut. Karena saya karyawan, saya membeli rumah dengan KPR.

Yang pertama kali dilakukan untuk proses pembelian rumah lewat KPR, saya membayar booking fee di bulan Agustus 2016 sebesar Rp. 1 juta. Kemudian, saya juga harus menyiapkan beberapa dokumen yang diperlukan. Biasanya, Kartu identitas selalu diwajibkan, namun masalahnya KTP saya masih berdomisili Medan. Alhasil, saya harus membuat dulu surat keterangan domisili tinggal di Jakarta. Selain syarat itu, saya juga harus menyertakan surat keterangan belum memiliki rumah dari kepala desa di wilayah Jakarta. Untuk syarat itu, saya juga harus menunggu kedua orang tua untuk membantu mengurusi surat keterangan tersebut lalu dikirimkan kepada saya.

Akhirnya berkas penting terkumpul juga, dan saya akan segera menyerahkanya pada pihak Marketing KPR. Pihak marketing menyebutkan bahwa saya harus menunggu selama 7 bulan, untuk bisa melakukan akad kredit rumah baru tersebut. Cukup merepotkan juga ketika harus mengumpulkan berkas-berkas tersebut. Tapi itu normal lah, yang penting, semua berkas yang diperlukan sudah saya kumpulkan.

Martin sepertinya cukup sabar dalam mengikuti proses yang diperlukan, saat mengajukan KPR untuk rumah bersubsidinya. Namun, berbeda dengan Dewi. Dewi juga bekerja sebagai karyawan swasta di Jakarta. Ketika mencari rumah di Jakarta, ia sangat merasa kesulitan. Hampir 1 bulan lebih dia mencari rumah, baik secara daring maupun online. Karena Dewi dan suaminya sedang memerlukan rumah, akhirnya mereka memuuskan untuk KPR rumah second.

Untuk proses pembelian tersebut, Dewi diharuskan membayar biaya booking fee kepada agen penjual sebesar Rp. 10 juta. Uang itu juga bisa dibilang sebagai tanda jadi Dewi atas pembelian rumah bekas tersebut. Dewi juga memutuskan untuk mengambil KPR atas rumah tersebut. Dewi mengajukan KPR di salah satu bank kepercayaanya. Sambil menunggu keputusan ditolak atau diterimanya KPR yang telah diajukan, dia harus membayar biaya appraisal sebesar Rp. 1 juta.

Biaya appraisal ini dikenakan pihak bank untuk melakukan penilaian dan penaksiran harga rumah yang akan dibeli oleh nasabahnya. Biaya ini juga berbeda di setiap bank, berkisar dari Rp. 250.000 hingga Rp. 1000.000. Jika pengajuan KPR ditolak pihak bank, maka uang tersebut juga hangus.

Hal ini terjadi pada Dewi, ternyata KPR yang diajukan olehnya ditolak pihak Bank. Alasanya, rumah bekas yang akan dibeli itu berada dalam lokasi yang tidak sesuai kriteria pihak bank untuk sebuah rumah bekas. Dalam kasus ini, uang appraisal yang sudah dibayarkan dewi, hangus.

Dewi tidak menyerah sampai disitu saja, ia kembali mengajukan KPR ke bank lainya. Otomatis, dewi juga harus kembali membayar biaya appraisal seperti sebelumnya. Jika, KPR dewi ditolak kembali maka hal yang sama akan terulang lagi.

Parahnya, ternyata agen yang menjual rumah tersebut memberikan syarat booking fee yang masa berlakunya hanya 1.5 bulan saja. Sementara, Dewi masih mengurusi KPR di beberapa bank, dan ia tidak mengetahui persyaratan itu sebelumnya. Dewi akhirnya mengajukan protes, tidak terima dengan semua keribetan dan kerugian yang ia terima. Karena profesionalitas, sang agen akhirnya memberi kelonggaran.

Teliti BI Checking

Setelah ditelusuri, ternyata alasan beberapa bank tadi menolak pengajuan KPR Dewi, karena ia memiliki kendala di BI Checking. Saat pihak bank mengecek status BI Checking Dewi, ia memiliki tagihan kartu kredit Rp. 300 ribu. Tagihan tersebut juga sudah cukup lama belum dilunasi. Dewi menyebutkan kalau tagihan tersebut bukan utang kartu kredit, itu hanya annual fee yang lupa belum dibayarkan.

Coba jika dari awal, Dewi mengecek hal ini sebelum mengajukan KPR, ia tidak harus berkali-kali ditolak KPR nya oleh bank.

Bertekad kuat ingin segera membeli rumah lewat KPR, Dewi kembali mengajukan KPR. Kali ini dia sudah berstatus lolos BI Checking. Dewi mengajukan KPR di bank kelima. Akhirnya, proses pengajuan KPR di bank ke-5 ini diterima. Pihak bank akan segera menganalisis apakah calon kreditornya tersebut layak untuk diberikan pinjaman dana. Bank juga bisanya sampai melakukan survey ke tempat bekerja nasabahnya.

Pihak bank akan sangat detail ketika memeriksa rekening Koran dari calon kreditornya. Jika nasabahnya memilih KPR non subsidi, pihak bank juga akan memeriksa tentang status kepegawaian nasabah bersangkutan.

Perlu Anda ketahui, jika status bekerja masih sebagai Karyawan kontrak, besar kemungkinan KPR akan ditolak pihak bank. Adapun bank yang menerima status Karyawan kontrak, akan memberikan sejumlah syarat lainya yang cukup ribet. Anda yang berstatus Karyawan tetap, tapi masa kerjanya kurang dari satu tahun juga harus menyerahkan surat kerja dari perusahaan tempat bekerja sebelumnya.

Setelah persyaratan rampung, maka pihak bank akan memutuskan apakah menerima KPR atau menolak KPR yang diajukan. Bagi yang tidak memilih KPR subsidi, biasanya pihak bank belum tentu memberikan plafon pinjaman sesuai keinginan kreditornya. Sebagai contoh, jika Dewi membeli rumah bekas tadi seharga Rp. 500 juta, kemudian ia membayar uang muka sebesar 30% sebesar Rp. 150 juta, maka plafon yang diberikan pihak bank, bisa saja hanya Rp. 350 juta. Solusinya, nasabah perlu mencari dana tambahan.

Dewi sudah membayar booking fee dan menunggu selama 4.5 bulan untuk melakukan akad kredit dengan pihak bank. Menurut Dewi, mengurus KPR rumah memang disadarinya memerlukan waktu yang cukup lama. Apalagi Dewi seorang yang cukup sibuk bekerja, kegiatan seperti ini cukup menyita waktunya. Dari segi biaya, Dewi juga masih harus mengeluarkan biaya untuk notaries dan lain sebagainya.

KPR Itu Ribet dan Berbelit

Melihat beberapa contoh kasus diatas, sepertinya sebagian besar orang menganggap bahwa proses KPR itu sulit dan ribet. Hal ini juga dibuktikan oleh hasil survey dari Rumah.com. situs ini melakukan survey terhadap 1.020 orang koresponden, sejak bulan Januari hingga Juni tahun 2017 ini. Hasilnya, sebanyak 86% dari koresponden menyatakan bahwa biaya serta proses KPR yang pernah mereka ajukan, di Indonesia sangat sulit dan berbelit.

Kemudian, sebanyak 51% dari koresponden menyatakan pendapat bahwa proses KPR juga memerlukan uang muka yang bisa dibilang terlalu tinggi nilainya. Uang muka tersebut biasanya untuk jenis rumah yang tanpa subsidi. Lalu sebanyak 45% dari koresponden lainya mengatakan tidak siap jika harus membeli rumah di tahun ini juga. Sisanya, 34% mengatakan alasan tidak akan membeli rumah karena harganya yang dinilai sangat tinggi.

Hasil survey lainya juga dilakukan oleh Pasar Primer Bank Indonesia, yang melakukan survey terhadap harga properti Residensial. Pihaknya melakukan survey selama Triwulan ke-IV di tahun 2016, dan hasil surveinya dipublikasikan di tahun 2017 ini. survei tersebut mengungkap beberapa faktor yang menghambat terjadinya pertumbuhan bisnis di sektor properti, menurut pandangan pengembang perumahan di Indonesia.

Faktor tersebut diantaranya adalah Suku bunga KPR dengan mengambil porsi sebanya 19.91 %. Kemudian, disusul pembayaran uang muka sebanyak 18.39%, masalah perizinan sektor properti sebanyak 16.15%, Kenaikan harga sebanyak 13.54% dan juga Pajak sebanyak 13.76%. Sebagian dari mereka yang mengajukan KPR, seperti hal nya kasus Dewi tadi, menyatakan tidak ingin mengikuti proses KPR yang ternyata begitu rumit dan berbelit-belit tersebut, ketika ingin memiliki sebuah rumah.

Tergantung Anda, Jika Memilih KPR Maka Harus Siap dengan Konsekuensinya

Walaupun proses KPR bisa dibilang cukup sulit dan berbelit, tapi semua kembali kepada Anda dan kebutuhan untuk memiliki rumah. Jika ingin memiliki rumah segera, maka ikuti prosesnya dengan baik dan teratur. Pihak bank juga akan membantu kita dalam mengurusi semua hal terkait KPR yang diajukan. Anda hanya perlu sedikit bersabar dalam proses KPR seperti ini, demi mewujudkan mimpi untuk memiliki rumah idaman.

Related searches

  • proses kpr rumah second
  • proses akad kredit kpr
  • berapa lama proses kpr disetujui
  • proses akad kredit kpr btn
  • proses kpr btn
  • lama proses kpr sampai akad kredit
  • biaya akad kredit kpr btn 2016
  • syarat pengajuan kpr btn

Related post

Leave A Comment