Pengertian Over Kredit KPR

pengertian over kredit kpr

Pengertian Over Kredit KPR – Tidak dapat dipungkiri, rumah menjadi salah satu kebutuhan bagi setiap orang. Layanan KPR merupakan salah satu solusi terbaik bagi yang ingin memiliki rumah dengan cara kredit.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa selain KPR reguler, bank juga memiliki layanan Over Kredit KPR yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan KPR reguler.

Jadi, pengertian Over Kredit KPR merupakan layanan Bank yang dapat digunakan jika nasabah ingin membeli atau menjual rumah yang masih di KPR-kan ke Bank atau masih memiliki cicilan KPR ke bank dan belum lunas.

Di luar sana, mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa rumah yang belum lunas KPR-nya ternyata bisa di jual yang umumnya dikenal dengan over kredit. Namun, tentu saja, ada syarat-syarat tertentu agar nasabah yang rumah-nya di KPR-kan bisa di Over kredit. Selain itu, perlu diperhatikan juga tata caranya.

pengertian over kredit kpr

Cara Melakukan Over kredit 

Nah, bagi nasabah yang rumah KPR-nya ingin di over kredit, ada beberapa cara yang perlu diperhatikan agar proses over kredit lancar dan langsung diproses pihak bank. Ulasannya simak dibawah ini ya.

Pertama, menggunakan surat perjanjian antara penjual dan pembeli

Ada banyak cara untuk nasabah yang ingin melakukan over kredit, salah satunya yaitu dengan menggunakan surat perjanjian antara penjual dan pembeli. Dengan catatan, tanpa mengubah Akta dan sertifikat kepemilikan.

Umumnya, cara ini biasa dilakukan oleh orang terdekat atau keluarga dengan menerapkan system saling saling percaya. Jadi, proses Over kredit pun cukup hanya dengan menggunakan surat perjanjian tanpa perlu melibatkan notaris maupun pihak Bank.

Baca Juga  Biaya Over Kredit KPR

Kedua, menggunakan jasa notaris tanpa menghubungi pihak Bank

Selain itu, untuk proses over kredit ini, ada pula yang menggunakan jasa notaris, tanpa harus menghubungi pihak Bank. Biasanya orang yang menerapkan cara kedua ini berasumsi bahwa dengan menggunakan jasa notaris, secara legal, over kredit ini lebih kuat dimata hukum.

Ketiga, menggunakan Bank

Cara ketiga ini yaitu over kredit yang melibatkan Bank. Biasanya cara ketiga ini lumayan ribet. Oleh karena itu, biasanya hanya segelintir orang yang menggunakan cara ketiga ini meski cara ketiga ini justru yang paling aman.

Ya, sebagian besar nasabah yang akan melakukan over kredit biasanya lebih memilih cara yang pertama dan cara yang kedua, karena dianggap paling mudah dan tidak ribet prosesnya. Hanya saja, cara pertama dan kedua ini memiliki risiko yang bisa menjadi fatal di masa mendatang.

Over Kredit KPR yang Berisiko

Risiko yang akan didapatkan jika melakukan Over kredit dengan menggunakan cara pertama dan kedua, sangat fatal karena resiko yang timbul bukan hanya berdampak pada pembeli saja, tapi juga pada penjual. Maka dari itu, ada baiknya untuk menghindari over kredit dengan menggunakan cara pertama maupun cara kedua.

Berikut ini risiko yang bisa saja menimpa para nasabah KPR yang akan over kredit menggunakan cara peratama maupun cara kedua. Harap diperhatikan karena ini sangat penting!

Risiko untu Pembeli

Meski sudah ada kesepakatan jual beli, namun sertifikat masih atas nama penjual (orang pertama). Risiko yang bisa saja menimpa pembeli yaitu dia tidak bisa mengambil sertifikat ke Bank saat rumah telah lunas. Walaupun dengan menunjukan surat jual beli ataupun surat dari notaris. Sebab, sertifikat tersebut hanya bisa di ambil oleh nasabah yang namanya tercantum pada sertifikat.

Baca Juga  Prosedur Menjual Rumah KPR yang Perlu Kamu Pahami

Nah, lalu bagaimana jika si penjual (orang pertama) sudah pindah, tidak bisa di hubungi, atau bahkan sudah meninggal? Risikonya, ya, pembeli tetap tidak akan bisa mengambil sertifikatnya. Kalau pun bisa, tentunya membutuhkan proses yang panjang dan menempuh jalur legal yang rumit.

Risiko untuk Penjual

Karena telah terjadi over kredit KPR, pembayaran cicilan rumah selanjutnya akan dilakukan oleh pembeli. Namun, jika proses over kredit ini menggunakan cara pertama maupun cara kedua, risiko yang terjadi bukan hanya menimpa pembeli, tapi juga penjual.

Jadi, dalam riwayat pencatatan Pembayaran OJK, pembayaran akan dicatat sebagai pembayaran Penjual sebagai pemilik rumah (riwayat pembayaran dikenal dengan SLIK OJK yang dulu dinamakan BI Checking). Maka, jika pembeli telat membayar cicilan atau menunggak pembayaran, maka yang terkena risikonya yaitu pihak penjual.

Mengapa demikian? Sebab, jika pembeli telat membayar cicilan sampai berbulan-bulan maka, risiko yang akan terjadi yaitu pihak penjual akan di blacklist oleh Bank. Karena yang masih tercantum dalam cicilan KPR adalah si nama penjual.

Nah, dampak buruk yang diakibatkan jika sudah di Blacklist Bank yaitu: semua pengajuan kredit (motor, mobil, rumah atau elektronik) akan di tolak oleh Bank atau leasing. Mengerikan sekali, bukan?

Over Kredit yang Benar

Lalu, bagaimana tata cara over kredit yang benar agar tidak terjadi risiko-risiko seperti yang sudah dipaparkan diatas?

Jadi, cara over kredit KPR yang benar adalah yang tidak merugikan atau menimbulkan risiko di kedua belah pihak. Baik itu dipihak penjual maupun dipihak pembeli.

Over Kredit KPR yang baik benar-benar adalah yang mengalihkan kepemilikan rumah beserta nama pemilik pada sertifikat kepada pembeli.

Baca Juga  Simulasi Over Kredit KPR

Mengenai cara over kredit yang baik dan benar tersebut, penjelasan lengkapnya bisa kamu lihat pada halaman Cara Over Kredit KPR.

Nah, itulah informasi mengenai pengertian over kredit KPR, tata caranya dan risiko yang ditimbulkan jika tidak mengikuti caranya dengan benar. Semoga informasi ini bermanfaat ya.