mengurus sertifikat rumah sendiri
4.5/5

Mengurus Sertifikat Rumah Sendiri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Sebagai salah satu aset berharga, mengurus sertifikat rumah memang penting untuk dilakukan. Dalam mengurus sertifikat rumah tersebut, kamu bisa meminta bantuan kepada pihak tertentu maupun melakukannya sendiri. Untuk kamu yang mengurus sertifikat rumah sendiri, ada beberapa hal yang perlu untuk kamu perhatikan. Salah satu hal tersebut ialah prosedur atau tahapan mengurusnya. Kamu harus melewati prosedur mengurus sertifikat rumah dengan benar.

mengurus sertifikat rumah sendiri

Dengan kamu melewati prosedur mengurus sertifikat rumah sendiri secara tepat, maka kamu bisa tinggal di rumah kamu untuk untuk jangka waktu yang sangat lama dengan tenang dan nyaman. Selain prosedur, kamu juga perlu tahu mengenai biaya yang dibutuhkan. Sebelum mengurus sertifikat rumah, kamu memang perlu tahu besarnya biaya yang perlu kamu keluarkan nantinya. Untuk lebih jelasnya, kamu simak saja info lengkap mengenai prosedur dan biaya mengurus sertifikat rumah sendiri berikut ini.

Prosedur Mengurus Sertifikat Rumah Sendiri

Kamu bisa mengurus sertifikat rumah dari Hak Guna Bangunan (HGB) menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM) secara mudah dengan cara mengikuti prosedurnya. Langsung saja, berikut ini adalah prosedur mengurus sertifikat rumah sendiri yang perlu untuk kamu pahami terlebih dahulu.

  • Membeli serta mengisi formulir permohonan
  • Memiliki ataupun membawa Sertifikat Hak Atas Tanah (HP/HGB)
  • Surat keterangan dari kelurahan atau IMB yang menyebutkan bahwa rumah tersebut digunakan sebagai rumah tinggal
  • Surat kuasa serta fotokopi KTP penerima kuasa jika dikuasakan
  • Identitas pemohon KTP, WNI KK, Ganti Nama (apabila perorangan), akta pendirian ataupun akta perubahan (apabila badan hukum)
  • PBB tahun berjalan (fotokopi disertai menunjukkan aslinya)
  • Pernyataan yang menyebutkan tidak memiliki tanah dengan luas keseluruhan tidak lebih dari 5.000 m2 pada lebih 5 bidang tanah perumahan
  • Surat pernyataan yang berasal dari pemegang hak tanggungan, jika tanah tersebut dibebani
  • Hak Tanggungan pernyataan yang berasal dari pemohon
  • Surat pernyataan yang berasa; dari pemohon
  • Bayar tarif atas jenis penerimaan bukan pajak, guna pelayanan pendaftaran tanah rumah

Biaya Mengurus Sertifikat Rumah Sendiri

Seperti yang telah dibahas pada info prosedur di atas, kamu perlu untuk membayar biaya pengurusan sertifikat rumah. Untuk mengetahui besarnya tarif, kamu simak saja pada pembahasan berikut ini.

Tarif resminya sesuai dengan PP 46/2002, yakni:

{2% x (NPT-NPTTKUP)} – {(Sisa HGB/Jangka Waktu HGB) x UP HGB x 50%}

Keterangan:

  • NPT & NPTTKUP dapat dilihat di SPT PBB.
  • NPT = Nilai Perolehan Tanah.
  • NPTTKUP = Nilai Perolehan Tanah Tidak Kena Uang Pemasukkan.
  • NPT = NJOP Tanah.
  • NPTTKUP = NJOPTKP.
  • Jangka waktu HGB dapat dilihat di sertifikat tanah.
  • UP HGB = Uang Pemasukan HGB.
  • Jangka waktu selama 30 tahun: 1% x (NPT-NPTTKUP)
  • (Jangka Waktu HGB yang diberikan/30) x {1% x (NPT-NPTTKUP)} untuk jangka waktu kurang 30 tahun
  • Rumus: [Luas tanah x (NJOP-NJOPTKP) ] x 5% + biaya notaris
  • Biaya notaris antara Rp. 750.000 sampai dengan Rp. 2.500.000.

Setelah mengetahui besarnya biaya yang perlu kamu bayarkan, kamu bisa melewati prosedur mengurus sertifikat rumah dengan tepat. Dengan begitu, proses mengurus sertifikat rumah sendiri bisa berjalan dengan lancar.

Jenis Sertifikat Rumah dan Properti

Untuk menambah wawasan kamu mengenai sertifikat rumah, ada baiknya kamu juga simak jenis-jenis sertifikat rumah dan properti secara umum berikut ini.

  • Sertifikat Hak Milik (SHM)

Sertifikat Hak Milik (SHM) merupakan sertifikat atas kepemilikan penuh atas hak lahan dan/atau tanah yang dimiliki oleh pemegang sertifikat tersebut. Keuntungan memiliki sertifikat SHM ialah bisa diwariskan secara turun temurun, sertifikat terkuat dan penuh, hak milik bisa diperjual belikan, hak milik bisa dijadikan agunan untuk kredit, dan tidak ada batas waktunya. Hak milik hanya bisa hilang apabila tanah jatuh kepada negara dan/atau tanah musnah.

  • SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan)

Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) adalah hak atas seseorang untuk mendirikan serta mempunyai bangunan-bangunan diatas tanah yang bukan miliknya sendiri. HGB ini berlaku sampai 30 tahun dan bisa diperpanjang hingga batas waktu mencapai 20 tahun.

  • Sertifikat Hak Satuan Rumah Susun (SHSRS)

Dalam prakteknya, SHSRS ini berlaku pada kepemilikan seseorang atas rumah vertikal ataupun apartement (rumah susun) yang didirikan di atas tanah dengan kepemilikan bersama.