Ini Dia! Bahaya Menggunakan Layanan Fintech Ilegal

Bahaya Menggunakan Layanan Fintech Ilegal

Bahaya Menggunakan Layanan Fintech Ilegal – Sekitar tahun 2018 lalu Otoritas Jasa Keuangan Mencatat ada 227 perusahaan financial technology atau yang sering disebut dengan fintech ilegal. Sekitar 227 fintech tersebut diminta untuk menghentikan kegiatan operasionalnya yang telah dilakukan selama ini.

Memang penipuan yang dilakukan di dalam layanan fintech online via aplikasi sangat berbahaya dan sama bahayanya dengan tindakan kriminal lainnya, di mana hal ini bisa mengancam nyawa korban dan juga keamanan yang ada. Hal ini terbukti terdapat kejadian di mana korban dari fintech online abal-abal atau palsu yang hidupnya jadi berantakan akibat kena tipu dan kehilangan dana yang mereka berikan.

Banyak sekali korban yang dilecehkan oleh fintech karena tidak sanggup untuk membayar utangnya atau tagihan cicilannya tersebut. Pasti Anda sendiri penasaran dengan ciri-ciri provider fintech online ilegal ini dan apa saja tindakan kejahatan yang dilakukan oleh fintech terhadap korbannya. Nah untuk menjawab semua pertanyaan tersebut, Anda dapat membaca informasi berikut ini dengan jelas.

Mengenali Tanda-Tanda Umum Layanan Fintech Online Ilegal

Fintech Online Ilegal sendiri tidak masuk kedalam daftar Otoritas Jasa Keuangan atau OJK dan juga Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia atau AFPI.

Penyedia jasa atau layanan pinjaman online abal-abal yang berkedok asli ini mencantumkan logo dari OJK dan juga AFPI pada aplikasi maupun laman website resmi mereka yang akan digunakan untuk menipu korbannya.

Baca Juga  Bunga KPR Naik Disaat Bunga Acuan Turun

Sebaliknya, pada lembaga yang Legal juga terdapat logo seperti itu, hal ini tentu Fintech abal-abal ingin meyakinkan masyarakat bahwa provder layanan ini benar-benar terbukti aman dan asli karena berada di bawah pengawasan OJK maupun AFPI.

Indikasi lainnya yang menunjukkan bahwa provider fintech online ini benar-benar terlihat palsu bisa kita lihat dari aplikasinya yang tidak diunduh dari PlayStore atau APP karena tidak memiliki izin operasi, melainkan aplikasi ini di unduh dari link APK yang dibagikan melalui pesan singkat maupun juga melalui aplikasi chatting.

1. Data Lembaga Tidak Ditampilkan

Sudah pasti penyedia pinjaman online berkedok fintech legal yang ternyata abal-abal ini tidak mencantumkan alamat kantor beserta dengan customer service yang dapat dihubungi jika sewaktu-waktu ada nasabah yang mengalami kendala di dalam menggunakan layanannya tersebut.

Fintech ilegal biasanya menutupi data lembaga dari pihak penyedia layanan tersebut, termasuk call center dan juga alamat kantor serta kontaknya biasanya diisi menggunakan nomor telpon pribadi.

2. Minta Biaya Di depan dan biaya Ditransfer ke Rekening Pribadi Bukan ke Rekening Perusahaan

Perusahaan layanan peminjaman online fintech legal biasanya tidak meminta membayar biaya di depan untuk layanan pinjaman atau juga untuk investasi yang diberikan. Anda harus berhati-hati jika disuruh membayar ongkos dimuka yang dibayarkan ke rekening pribadi bukan atas nama perusahaan, pihak Fintech ilegal tentu memberi iming-iming akan cepat diapprove.

3. Penyadapan dan Bocornya Informasi Pribadi

Terlepas dari pengawasan pihak Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, Pihak lembaga pinjaman online ilegal atau fintech ilegal ini tidak ragu untuk menyadap ponsel nasabahnya guna mencari dan mendapatkan data informasi pribadi terkait target yang akan dituju, bahkan sampai kontak yang berada di dalam alat komunikasi tersebut.

Baca Juga  Suku Bunga KPR Turun, Cicilan KPR Juga Turun?

Tujuan yang dilakukan oleh pihak fintech ilegal ini untuk menyalahgunakan informasi yang telah ia dapat guna untuk menagih pembayaran cicilan pada nasabah malang tersebut. Tentu tindakan ini tidak patut dilakukan karena sangat-sangat mengganggu privasi kita.

4. Intimidasi yang Tidak Wajar

Pihak fintech abal-abal ini bahkan meneror korbannya dengan mengirimkan pesan maupun melakukan panggilan hingga berkali-kali, tak bisa dibayangkan bahwa debt collector yang disewa oleh pihak fintech ilegal ini bisa bertindak sangat ekstrim dengan mencaci dan bahkan melecehkan pengguna atau korban.

Intimidasi yang tidak wajar yang Admin maksud kali ini sudah jelas bertujuan agar peminjam atau korban merasa takut dan berupaya untuk segera menuntaskan peminjamannya. Namun cara kejahatan intimidasi ini tentu saja bisa dilaporkan kepada pihak berwajib karena sudah merupakan tindak kejahatan karena menyangkut pihak peminjam.

Utamakan Keamanan, Jangan Langsung Tergiur Tawaran Peminjaman Online

Jika Anda salah memilih layanan pinjaman online, tidak hanya akan berbuntut masalah ketentraman dan juga keamanan saja, namun bisa juga menyeret pihak-pihak lain seperti keluarga, kerabat dan relasi kantor.

Bahkan terjadi kasus, konsumen sampai mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup membayar cicilan gara-gara bunga pinjamannya terlalu tinggi dan adanya biaya tambahan lainnya.

Nah bagi Anda supaya tidak tertipu dengan penyedia pinjaman online ilegal, Anda harus terlebih dahulu memastikan keamanan lembaga dengan cara meninjau legalitasnya di laman OJK atau Otoritas Jasa Keuangan. Selain itu Anda pelajari syarat beserta ketentuannya agar semakin paham dengan sistem yang ada di dalam peminjaman online tersebut.

Promo KPR

Bunga Mulai Dari

1 %

Ajukan sekarang sebelum naik