bunga kpr tinggi
4.5/5

Bunga KPR Tinggi Berdampak Penjualan Rumah Turun

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Bunga KPR Tinggi – BI (Bank Indonesia) mencatat kenaikan harga properti residensial di pasar primer pada kuartal II 2019 mengalami perlambatan.

BI juga mencatat, selain adanya perlambatan kenaikan harga, volume penjualan rumah juga mengalami penurunan.

Berdasarkan hasil survei harga properti residensial BI menyebutkan hal tersebut tergambar dari indeks harga properti residensial (IHPR) pada kuartal II 2019 yang hanya 0,2%.

Pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang berada di angka 0,49%.

Hasil survei BI juga menyebutkan bahwa melambatnya kenaikan harga properti residensial ini mencakup semua tipe rumah.

BI juga menyebutkan bahwa pada kuartal III 2019 harga rumah akan mengalami peningkatan mencapai 0,76%.

BI kembali menyebutkan bahwa tercatat volume penjualan properti residensial para kuartal II 2019 mengalami kontraksi minus 15,9%.

Angka tersebut disebut BI lebih rendah jika dibandingkan dengan volume pertumbuhan kuartal yang sebelumnya yakni 23,77%.

Hasil survei menyebutkan bahwa volume penurunan jumlah penjualan properti residensial diakibatkan oleh penurunan penjualan rumah tipe besar serta rumah tipe kecil.

Menurut hasil responden, sejumlah faktor yang membuat volume jumlah penjualan mengalami penurunan yaitu daya beli yang melemah, tingginya suku bunga KPR, dan juga harga rumah yang tinggi.

Hasil survei juga memperlihatkan bahwa biaya pembangunan properti residensial oleh developer (pengembang) khususnya bersumber dari sektor non perbankan.

Hal tersebut tergambar dalam pembiayaan pembangunan yang sumbernya dari dana internal developer yang mencapai angka 50,57%.

Sedangkan disisi konsumen, untuk sumber pembiayaan utama pembelian properti residensial, sebagaian besar masih memanfaatkan fasilias KPR.

Baca juga: Cara Mengatasi Bunga KPR Naik. Simak Baik-baik!

bunga kpr tinggi

Ini Alasan Kenapa Bunga KPR Masih Tinggi

Bunga KPR yang masih tinggi memang menjadi alasan menurunnya volume penjualan rumah. Padahal bunga acuan turun, namun kenapa bunga KPR tinggi?

Rohan Hafas selaku Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri Tbk menyebutkan bahwa untuk menurunkan bunga KPR memerlukan waktu setidaknya tiga bulan, karena bunga KPR butuh penyesuaian.

Rohan kembali menambahkan bahwa sejak bunga acuan turun, bunga KPR sudah diturunkan sedikit demi sedikit. Dalam pelaksanaannya memang harus bertahap.

Rohan juga menuturkan bahwa ada bunga KPR yang sudah turun, yaitu bunga fixed rate (tetap) yang semula 8% menjadi 7%.

Bima Yudihistira selaku Ekonom Institute Development of Economics adn Finance (Indef) menyebutkan bahwa memang tidak semua bank mampu menyesuaikan bunga KPR dengan instan.

Dia kembali menyebutkan, bahwa bahkan ada sejumlah bank yang memerlukan waktu setidaknya 5 bulan untuk penyesuaian.

Belum lagi adanya risiko pada sektor properti, khususnya untuk golongan menengah atas masih tinggin bagi pihak perbankan.

Alhasil, kondisi seperti ini membuat pihak perbankan menjadi dilema. Umumnya, risiko yang tinggi memang diikuti dengan bunga yang juga tinggi.

Dilema bank makin bertambah mengingat saat ini pihak perbankan saling berlomba-lomba meraih dana murah untuk menjaga agar likuiditas mereka tetap bagus.

Namun, karena hal tersebut, efeknya suku bunga kredit pun dipatok tinggi agar bunga deposito juga tetap tinggi.

Baca juga: Uang Muka KPR Turun 5% Hingga 10%

Seharusnya Bunga KPR Bisa Segera Turun

Hasil survei menyebutkan bahwa volume penjualan properti residensial BI kuartal II 2018 mengalami minus 0,08% dari kuartal sebelumnya.

Bhima menkhawatirkan, ditengah kondisi yang sedang lemah ini, masyarakat akan lebih memilih untuk menunda membeli properti jika bunga KPR masih tinggi.

Warsito Aji selaku Ketua Bidang Pengaduan Yayasan Konsumen Indonesia (YLKI) memaparkan bahwa bank seharusnya lekas menyesuaikan bunga KPR. Seharusnya Bunga KPR bisa segera turun.

Aji juga menambahkan, jika pihak Bank terus saja menahan, tentu ini akan memberatkan masyarakat yang ingin mengajukan KPR.

Aji kembali menambahkan, tingkat risiko KPR ini lebih rendah dibandingkan jenis-jenis kredit lainnya. Berkaca dari hal ini, seharusnya bank bisa lebih cepat menurunkan suku bunga KPR saat suku bunga acuan turun.

Sebelumnya sudah pernah terjadi di tahun 2017 dimana penurunan suku bunga acuan dibarengi dengan penurunan suku bunga KPR.

Bahkan, pada masa itu, suku bunga acuan mengalami penurunan 2 kali yakni bulan Agustus dan September.

Pada masa itu, rata-rata bunga Kpr berada diangka 10,15%. Setelah bunga acuan turun, bunga KPR terus mengalami penurunan pada setiap bulannya.

Hingga per maret 2018, bunga KPR berada di angka 9,75% dari yang sebelumnya 10,15%. Seharusnya tahun ini bunga KPR juga bisa mengalami penurunan.

Baca juga: Nasabah Minta Bunga KPR Turun Ikuti Bunga Acuan

Solusi Bunga KPR Flat Sampai Lunas

Bunga KPR yang tinggi memang mempengaruhi nominal cicilan yang harus dibayarkan setiap bulannya. Meski bunga acuan turn, namun jika bunga KPR tidak ikut turun, itu artinya sama saja.

Andy Nugroho selaku perencanaan keuangan dari MRE (Mitra Rencana Edukasi) memberikan tips jika ingin bunga tetap flat, maka caranya bisa dengan pindah ke KPR yang memang memiliki sistem flat, misalnya saja bank syariah dengan akad murabahah.

Dia juga mengungkapkan bahwa pemindahan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Ke skema syarian ini bisa juga dilakukan oleh para nasabah non muslim. Selengkapnya baca disini.