jenis sertifikat rumah
4.5/5

Beberapa Jenis Sertifikat Rumah dan Penjelasannya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Jenis Sertifikat Rumah – Adalah rumah yang selalu mampu memberikan tempat terbaik untuk beristirahat dari Lelah dan stress yang melanda.

 Tidak ada yang lebih mendamaikan dari rumah saat tubuh sudah Lelah dan stress karena dihajar banyak deadline pekerjaan.

Biacar soal rumah, apakah kamu sudah tahu jenis-jenis sertifikat rumah? Jadi, sertifikat rumah ini tujuan utamanya yaitu agar tertib. Ya, sebagai warga negara yang baik, kita harus tertib dalam administrasi.

jenis sertifikat rumah

Jenis-jenis Sertifikat Rumah

Sertifikat rumah terbagi menjadi beberapa jenis. Nah, dibawah ini akan dipaparkan jenis serfikat rumah yang perlu kamu ketahui sesuai UU No. 5 Tahun 1960 mengenai Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Simak baik-baik ya.

SHM (Sertifikat Hak Milik)

Hak milik merupakan jenis kepemilikan lahan atau rumah yang berada di kasta tertinggi atau terkuat di mata hukum dan bisa dialihkan (diwariskan, dijual atau dihibahkan) tanpa adanya batas waktu. Pemilik SHM (Sertifikat Hak Milik) memiliki hak penuh atas lahan atau tanah tersebut.

Tanah yang ber-SHM hanya bisa dimiliki oleh WNI (Warga Negara Indonesia). Jadi, untuk warga asing atau orang yang berkebangsaan bukan Indonesia tidak diperkenankan memiliki tanah ber-SHM.

Jika dilihat dari karakteristiknya, tanah yang ber-SHM itu memiliki nilai jual yang tinggi. Oleh karena itu, banyak orang yang berani berinvestasi property, lahan atau tanag yang ber-SHM.

Keunggulan Tanah atau lahan ber-SHM yaitu: Bisa diwariskan, sertifikat terkuat, bisa diperjual belikan, bisa dijadikan jaminan, tidak memiliki batas waktu.

Namun, perlu diketahui bahwa hal milik atas tanah tersebut dapat hilang jika adanya pencabutan hak, diserahkan sukarela, ditelantarkan, mewariskan kepada orang asing dan musnah.

SHSRS (Sertifikat Hak Satuan Rumah Susun)

Sertifikat ini berlaku untuk para pemilik rumah susun atau apartemen yang dibangun di atas lahan kepemilikan bersama. Adapun karakteristik SHSRS yaitu:

  1. Hak milik bersifat perorangan dan juga terpisah atas satuan rumah  susun.
  2. Pada sebuah bangunan rumah susun atau apartemen, ada bagian bersama atau tanah bersama, seperti: lahan parkir, taman, dan lainnya. Bagian tanah bersama ini disebut juga dengan nama strata title.
  3. Rentang waktu strata title sesuai dengan status tanah atau lahan tempat apartemen berdiri. Jika statusnya HGB, maka semua pemilik strata title harus kompak memperpanjang HGB jika masa haknya habis.
  4. Tanah ber-SHM hanya diperbolehkan dimiliki WNI tidak WNA.

SHGB (Sertifikat Hak Guna Bangunan)

Sertifikat ini berlaku untuk seseoang yang ingin mendirikan bangunan di atas tanah milik orang lain atau milik pemerintah. SHGB ini berlaku sekitar 30 tahun, jika rentang waktu sudah habis maka dapat diperpanjang dengan rentang waktu 20 tahun.

Keuntungan memiliki SHGB yaitu: tidak mengeluarkan dana besar, peluang usaha atau bisnis terbuka lebar, cocok untuk yang tidak ingin menampati dalam waktu lama, bisa dimiliki non WNI. Adapun kekurangan SHGB, seperti: tidak bebas dan rentang waktu terbatas.

Baca juga: Panduan Mengubah HGB ke SHM

Perlu kamu ketahui, bahwa SHGB ini bisa dinyatakan hangus atau tidak berlaku lagi jika terjadi beberpa hal berikut ini, seperti: rentang waktu habis, ada syarat yang tidak terpenuhi, ditelantarkan, dicabut haknya, tanahnya musnah, mengalihkan haknya, dan lain sebagainyanya.

Grik atau Petok

Lahan dengan jenis sertifikat seperti ini berguna untuk menunjukan penguasaan atas lahan/tanah dan juga kebutuhan perpajakan. Di salam sertifikat tersebut terdapat luas tanah, nomor, serta pemilik hak waris maupun jual-beli,

Acte van Eigendom

Acte van Eigendom ini merupakan sertifikat tanah sebelum terbitnya UU RI No. 5 Tahun 1960 mengenai Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria. Kini, sertifikat ini bisa dikonversi jadi SHM paling lambat 20 tahun sejak diterbitkannya UU pokok agraria.

Bahkan, hingga kini masih saja banyak lahan dengan sertifikat Acte Van Eigendom, sehingga PP nomer 24 tahun 1997 mengenai Pendaftaran Tanah konversi pun masih bisa dilakukan.

Selain sertifikat jenis Acte van Eigendom, ada juga sertifikat kepemilikan letter C. serta verponding Indonesia. Jika kamu memiliki sertifikat jenis seperti ini, sebaiknya lekas dikonversi menjadi SHM.

AJB (Akta Jual Beli)

Perlu diketahui bahwa AJB ini bukanlah sertifikat rumah. Jadi, AJB ini merupakan perjanjian jual-beli serta menjadi salah satu surat bukti pengalihan hak atas lahan. Bukti kepemilikan AJB ini sangat rentan akan penipuan AJB ganda.

Berikut ini beberapa tipe AJB yang perlu kamu tahu, diantaranya: AJB yang diatas lahan SHM yang belum dipisah, AJB diatas HGB, AJB diatas lahan Eigendom, petok atau girik.

Nah, itulah beberapa jenis Sertifikat rumah yang perlu kamu tahu. Setiap sertifikat memiliki karakter dan fungsinya masing-masing. Jadi, gunakanlah sertifikat tersesebut sesuai dengan fungsi dan keperluan kamu.

Ingat, sebelum membeli lahan atau rumah, pastikan rumah tersebut sudah memiliki izin dan memiliki sertifikat rumah lengkap demi agar tidak bermasalah di masa mendatang.

Jika informasi ini bermanfaat, yuk share ke orang-orang sekitar kamu.